Kang Ato

SIAPA menyangka lulusan STM Negeri Cirebon jurusan Mesin Umum memilih menjalani profesi sebagai seniman tarling. Ijazah STM yang didapat tahun 1965 itu hanya tergantung di dinding ruang tamu, diberi bingkai hingga berubah warna. Sunarto Martaatmadja kecil tergolong orang prihatin. Anak kepala SD di Desa Jemaras Kidul ini harus menempuh jarak puluhan kilometer bersepeda ke sekolahnya. Dengan sepeda tua milik bapaknya pula, ia sering membonceng Uci Sanusi guru tarlingnya, ke Palimanan, Arjawinangun, Celancang, Plumbon, Jamblang bahkan ke Kota Cirebon pada larut malam. Berbekal keinginan untuk memahami gitar dan suling serta beberapa tembang klasik Cerbonan, Narto kecil rela mengayuhkan kaki sambil membonceng gurunya ke dan dari berbagai tempat. Biasanya tempat yang dikunjungi adalah warung remang-remang (warem) sepanjang jalan.

Gurunya saat itu berstatus pimpinan grup “tarling” Melodi Kota Udang yang bernama Pria Lelana. Uci juga memimpin Orkes Keroncong sehingga lagu-lagu dalam tarling dinyanyikan sambil berdiri sebagai pengaruh keroncong. Demikian pula kreativitas Uci menyisipkan gamelan ke dalam tarling. Sementara Jayana saat itu hanya mengandalkan gitar dan suling, tetapi setelah bergabung dengan Uci, ia pun menggunakan tetabuhan gamelan dalam tarlingnya.

Sejak SD, Narto menjuarai beberapa lomba menyanyi. 1962 ia tergabung sebagai vokalis grup band STM sebagai penabuh tamtam atau kendang kecil. Kesibukan Kang Ato mengikuti kata hatinya untuk mengeluti tarling hingga ke seluk beluknya, ia sempat tidak lulus ujian STM. Akan tetapi ketika diulang setahun kemudian, ia lulus juga.
Akhir 1963, Kang Ato diajari sebuah lagu tarling (kiser) oleh Ismail alm, adik Uci. Saat itu ia sudah mencoba mencipta lagu klasik Cerbonan sendiri dengan cara membawa gitar sambil nonton wayang kulit dan menyesuaikan nada tatkala pesinden di panggung membawakan lagu klasik. Hasilnya, ia mengerti lagu-lagu Cerbon Pegot, Dermayonan dalam laras Pelog, seperti Kulu-kulu, Turun Tangis, dan sebagainya.

Setelah merasa cukup memiliki bekal keilmuan tarling, Kang Ato ingin punya gitar sendiri. Namun apa daya: uang tak punya. Maka ia bersama 30 kawannya mengumpulkan jerami (babad dami) paska panen padi dan dijual. Hasilnya dibelikan dua buah gitar akustik. Lengkaplah hasratnya memeluk gitar seharian.

Berbekal gitar itulah ia membentuk grup tarling yang bernama Karya Muda. Bersama kawannya dari Desa Jemaras (sekarang masuk wilayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon) ini dikenal sebagai tarling cilik. Setahun kemudian Karya Muda berubah jadi Seni Proletar. Istilah itu identik PKI dan biasa dipakai dalam rapat-rapat terbuka yang menggelorakan semisal rapat alegoris, dan kampanye politik, Kang Ato seorang kader PNI alias Soekarnois, mengubah nama grup tarlingnya menjadi Nada Jaya. Grup ini sudah mampu bersaing dengan grup tarling gurunya sendiri (Uci Sanusi) dan biasa manggung di berbagai tempat, mengundang kekaguman penonton.
Kang Ato bergabung dengan Barmawi, grup tarling Asmara Budaya. Penggabungan Nada Jaya dengan Asmara Budaya itulah yang memuculkan Nada Budaya. Beranggotakan 12 pemain, seorang vokalis (wirasuara) dan dua pesinden, berdiri 15 Agustus 1965. Sinden Nada Budaya saat itu: Kapsah dan Sampen. Lagu-lagu klasik amat dominan dalam pentas tarling, selain tarlingnya Uci yang menyisipkan fragmen Saedah Saeni karya guru Kang Ato, Mimi Carini.

Lagu Jonggrang Laut permintaan Kuwu Mursyid Desa Jamblang dalam hajatan di rumah kakak sepupu Kang Ato urung ditampilkan Uci, tetapi fragmen Saedah Saeni yang disuguhkan. Decak kagum penonton karena tarling dapat disisipi unsure cerita meski hanya sekitar 1 – 2 jam.

Hingga 1962 istilah tarling belum tersosialisasi. Irama Kota Udang merupakan julukan bagi kesenian yang mengandalkan gitar dan suling. Dalam acara Agustusan di reruntuhan Pabrik Gula Arjawinangun, Ketua Badan Pemerintah Harian (BPH) semacam DPRD memberi nama tarling bagi pentas kesenian yang menggunakan gitar dan suling. Tarling, bermakna yen sing melatar kudu eling (siapa pun yang berkelana/ menjalani kehidupan, harus sadar.

Tak dinyana. Uci dan Jayana dikesankan terlibat PKI 1965 pada kepengurusan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Meski keduanya bukan anggota PKI tapi karena ingin membalaskan sakit hartinya kepada Pak Kuwu yang memecat dari pekerjaannya sebagai Juru Tulis Desa Jemaras, Uci mendekati Bupati Cirebon, Harun. Uci Sanusi dan Jayana sebenarnya bergaris politik Partai Sosialis Indonesia (PSI) dibawah pimpinan Sutan Syahrir. “Keterlibatan” kedua dalam pergerakan itulah yang mencipta Nada Budaya tidak mempunyai saingan grup tarling yang kuat, kecuali Putra Sangkala yang dipimpin Abdul Adjib. Bahkan lagu Penganten Baru karya Askadi Sastrasuganda yang dilagukan Abdul Adjib konon dianggap lagu modern pertama di panggung tarling. Kang Ato kala ityu masih membawakan lagu-lagu klasik dalam tiap pertunjukannya. Ketika Kang Ato tidak pentas, Adjib sering mengajaknya manggung. Bujal, anggota Putra Sang Kala yang biasanya menjemput Kang Ato ke Jemaras, ikut juga Kapsah sebagai pesinden.

Nasib Kang Ato mujur. Tanggapan tarling tiap tahun selalu bertambah. Tahun 1966 Nada Budaya tampil 80 kali, naik 30 kali dari tahun sebelumnya. 1967, 125 kali dan pada saat itu Dadang Darniyah bergabung jadi sinden. 1968, 180 kali. 1969, 210 kali. 1970 sebanyak 215. 1971 sejumlah 230. 1972 manggung 243 kali. 1973 – 1976 rata-rata di atas 150-an. Sinden yang pernah bergabung di Nada Budaya adalah Asli, Asiati, Suteni, Serini, Sumiyati dan Desa Kalianyar. Jamisah dari Desa Bulak, dan Tumus dari Desa Kreo.

Lantaran provokasi, Dadang Darniyah keluar dari Nada Budaya. Posisinya digantikan Yayah Kamisiyah yang akhirnya disunting Kang Ato. Nada Budaya di tahun 1966 mulai memasukan unsur cerita di pentas tarlingnya dan unsur pelawak mantan pemain sandiwara rakyat (Masres). Mereka adalah Mang Towal, Si Kindung, Bendik dari Desa Bedulan, Rumi dari Indramayu mantan pemain Masres Tunggal Ika. Juga Gendut mantan pemain Masres Cendrawasih. Demikian pula Jebod dan Kampleng.

Adjib, Kang Ato, dan Uci bergabung membentuk Putra Nada Jaya tahun 1977. Setahun pentas mereka mencapai 90 kali. Grup ini bubar terjegal bagi hasil pentas. Tinggal Kang Ato dan Adjib yang bertahan, di sisi lain grup tarling Uci kian tenggelam.
Zaman terus berderak. Masa keemasan tarling tinggal cerita. Kini publik lebih senang meminta Kang Ato menampilkan organ tunggal ketimbang tarling. Pentas Nada Budaya pun tersisa 20 kali di tahun 2000.****
Oleh Dadang Kusnandar
*)Disalin dan ditulis ulang oleh penulis sendiri dari Pentas Musik Niat Ingsun (Embi C Noer) 14 – 15 Oktober 2000 di Gedung Kesenian Jakarta.

3 comments:

Dira July 2, 2009 at 7:19 AM  

Tulisan yang bagus, informatif.

Anonymous January 21, 2010 at 10:28 PM  

Open my mind...!
Please, permit me to copy the file!
Thank's a lot
HERRY F.R.

landrevalentino June 17, 2022 at 6:44 PM  

The king of bettors, the king of the coin - The King of Dealer
There are 카지노 many online bookmakers which provide bonuses and promotions on the gambling market. What is your kirill-kondrashin favourite bookmaker?

  © Free Blogger Templates Spain by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP